JAKARTA, JEJAK KABAR - Dalam dekade terakhir, jurnalisme di Indonesia memasuki fase baru yang penuh tantangan. Kehadiran teknologi digital dan media sosial mengubah cara informasi diproduksi dan disebarkan. Jika sebelumnya media arus utama menjadi penentu utama arus berita, kini informasi berseliweran dari berbagai kanal tanpa batas. Kondisi ini melahirkan paradoks: media profesional tetap berusaha menjaga akurasi dan verifikasi, sementara hoaks, disinformasi, dan manipulasi visual berbasis kecerdasan buatan justru berkembang semakin pesat.
Ke depan, arah kebenaran jurnalistik
Indonesia akan banyak ditentukan oleh tiga faktor besar: peran institusi pers,
kekuatan teknologi, dan kesiapan masyarakat menghadapi banjir informasi.
Institusi Pers, Teknologi, dan
Tantangan Baru
Dari sisi kelembagaan, Dewan Pers melalui
kepemimpinan baru Prof. Komaruddin Hidayat menegaskan pentingnya menjaga
keseimbangan antara kebebasan pers dan tanggung jawab publik. Namun, lembaga
formal tidak bisa bekerja sendirian. Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO)
mencatat bahwa pola penyebaran hoaks semakin canggih, termasuk melalui deepfake
yang mampu menggiring opini atau merusak reputasi. Ketua Presidium MAFINDO,
Septiaji Nugroho, menekankan bahwa kebenaran kini tidak lagi bisa dimonopoli
oleh redaksi, melainkan menjadi kerja bersama antara jurnalis, akademisi,
regulator, dan masyarakat sipil.
Arus teknologi membuat redaksi harus
beradaptasi dengan pendekatan baru. Analisis metadata, forensik digital, hingga
perangkat deteksi manipulasi menjadi bagian penting dari proses liputan. Peran
jurnalis semakin beririsan dengan analis data dan pakar keamanan digital, sebab
tanpa kemampuan teknis tersebut, media bisa tersisih oleh konten manipulatif
yang bergerak jauh lebih cepat di media sosial.
Literasi Publik dan Arah Jurnalisme
ke Depan
Namun, teknologi bukan satu-satunya jalan
keluar. Para akademisi menekankan bahwa literasi publik menjadi fondasi utama.
Prof. Dr. Suwandi Sumartias dari Universitas Padjadjaran menilai lemahnya
literasi media membuat masyarakat mudah terjebak dalam informasi palsu. Ia
menekankan perlunya membangun imunitas informasi agar publik mampu menilai
kebenaran tanpa sekadar bergantung pada satu sumber. Riset global mengenai
strategi pre-bunking bahkan menunjukkan bahwa simulasi hoaks sejak dini
dapat mengurangi kecenderungan seseorang untuk menyebarkan berita bohong.
Sayangnya, pendidikan literasi digital di Indonesia masih terbatas, terutama di
sekolah. Jika pemerintah berani memasukkan literasi media ke dalam kurikulum
formal, dampak jangka panjangnya bisa signifikan untuk menekan laju penyebaran
disinformasi.
Diterbitkan di: netralnews.com